Pentingnya Partisipasi Politik Generasi Y di Media Sosial

July 4th at 12:57pm

Kondisi politik Indonesia saat ini tengah berjalan ke arah yang lebih baik, kondusif dan damai. Hal ini menjadi pertanda baik untuk berjalannya roda pembangunan di Indonesia.

Sementara itu di media sosial, wacana perpolitikan begitu dinamis karena meningkatnya partisipasi masyarakat, terutama generasi Y yang akrab dengan perkembangan teknologi.

Dahulu partisipasi masyarakat dikancah politik bentuk fisik, seperti demo. Sekarang mulai berubah sejak munculnya gadget dan media sosial. Demikian diungkapkan oleh Prabu Revolusi, saat membuka acara diskusi dengan tema "Partisipasi Politik Generasi Y Di Media Sosial" yang digelar Paramadina Graduate School of Communication (PGSC) di Energy Building, Lt.21, SCBD Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5) lalu.

Acara diskusi terbuka ini menghadirkan nara sumber; Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno dan Dosen Komunikasi Politik PGSC, Gun Gun Heryanto. Turut hadir Rektor Paramadina, Prof. Firmanzah, sedangkan Prabu Revolusi yang merupakan News Anchor dan Mahasiswa PSGC bertindak sebagai moderator diskusi.

Gun Gun menjelaskan bahwa interaksi dan ekspresi partisipasi generasi Y telah mengkonfirmasi adanya fenomena demokrasi siber (Cyberdemocrazy). Hal ini berdasarkan literatur Andrzej Kaczmarczyk, dalam buku Cyberdemocracy Change of Democratic Paradigm in the 21st Century (2010).

"Fenomena ini ditandai empat faktor penting. Pertama, trend global dalam mempraktikkan model demokrasi partisipatoris. Kedua, komunikasi politik interaktif. Ketiga, konflik sering kali dimediasi oleh pengguna informasi berbasis teknologi komunikasi. Dan keempat, transformasi politik yang terhubung ke internet dan memberi akses pada informasi yang bersifat personal," jelas Gun Gun.

Generasi Y dijelaskan oleh Gun Gun adalah generasi yang lahir tahun 1977-1997. Sebelum itu disebut generasi X (1965-1976) dan sesudah generasi Y adalah generasi Z (yang lahir 1998-sekarang). Hal ini berdasarkan literatur dari Don Tapscott.

Sebagai dosen dan seorang peneliti, Gun Gun Heryanto berharap partisipasi generasi Y tidak hanya semata-mata bicara pemilu, tapi menjadikan media sosial sebagai ruang publik baru.

Sebab opini publik saat ini, menurut Gun Gun, bukan hanya dibentuk media mainstream seperti koran dan televisi karena ada beberapa keterbatasan mulai individu, organisasi hingga ideologi.

"Media sosial bisa menjadi penekan dan pengontrol. Terbukti KPK bisa kuat karena resonansi dan gerakan masyarakat di media sosial," kata Gun Gun.

Untuk menciptakan generasi Y yang lebih aktif dalam berpartisipasi politik, Gun Gun memiliki tips jitu yakni melalui pendekatan berbasis komunitas.

Sementara itu, menurut Sandiaga Uno, partisipasi politik generasi Y sangatlah penting. Berdasarkan data world bank, 50% penduduk Indonesia berusia dibawah 30 tahun. Jumlah populasi generasi muda ini menentukan kebijakan baik dalam pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan dan lain-lain.

Generasi Y, menurut pandangan Sandiaga Uno adalah generasi yang telah diselimuti dengan teknologi maju dan dikelilingi media sosial. Generasi ini juga dihubungkan dengan hal-hal yang lebih konsumtif. Sementara Sandiaga merasa dirinya termasuk generasi The Baby Boom (lahir 1946-1964).

Sandiaga mencontohkan soal kebijakan transportasi berbasis online yang ramai beberapa waktu lalu. "Generasi Y berpikir tak peduli dengan regulasi, yang penting saya butuh akses transportasi secara online. Ini terjadi karena regulasi tidak diperkenalkan sehingga tidak terjadi koneksi," ujar Sandiaga Uno.

Jika generasi Y tidak berpartisipasi dalam politik, lanjut Sandiaga Uno, maka pembuat kebijakan yang notabene angkatan tua tidak akan mengerti sedang terjadi gap. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagaimana parpol, pemerintah dapat mengajak generasi Y berpartisipasi dalam berpolitik.

Dihadapan mahasiswa dan peserta diskusi, Sandiaga Uno juga mengatakan tantangan yang harus di perhatikan generasi Y dalam partisipasi politiknya.

"Generasi Y harus lebih kritis dalam mengevaluasi informasi dan berita di media sosial. Sebab, generasi muda yang aktif dalam ranah media sosial belum mendapatkan kesempatan memadai untuk berpartisipasi dalam proses politik," kata Sandiaga Uno.

Di akhir presentasinya, Sandiaga berpesan supaya generasi Y tidak alergi terhadap politik.

Baca Berita Lainnya